{"id":44,"date":"2026-06-03T14:41:53","date_gmt":"2026-06-03T06:41:53","guid":{"rendered":"https:\/\/waktusenggang.com\/?p=44"},"modified":"2026-06-03T14:42:48","modified_gmt":"2026-06-03T06:42:48","slug":"berseraknya-kelas-menengah-dan-merosotnya-demokrasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/waktusenggang.com\/?p=44","title":{"rendered":"BERSERAKNYA KELAS MENENGAH DAN MEROSOTNYA DEMOKRASI"},"content":{"rendered":"<p><em>Hidayah Muhallim, Ketua Panitia Muswil-X KAHMI Sulsel<\/em><\/p>\n<p>Belakangan ini, banyak orang mulai resah dengan perkembangan demokrasi kita. Soalnya selama ini masyarakat terus-menerus dijejali dengan janji-janji demokrasi, tetapi fakta lapangan memperlihatkan hal berbeda. Sementara penglihatan banyak orang lebih tertuju pada realitas nyata, bagaimana demokrasi itu dipraktekkan dan apa dampak langsung yang ditimbulkan terhadap kehidupan mereka sehari-hari.<br \/>\nMateri diskusi, debat, dan analisis soal demokrasi diberbagai kesempatan sepertinya kurang greget lagi. Padahal menjelang tumbangnya rezim Orde Baru dan masa-masa awal reformasi, obrolan demokrasi merupakan suatu \u201ckemewahan\u201d. Namun karena \u201cjauh panggang dari api\u201d, gairah orang-orang terhadap demokrasi perlahan menjadi surut. Kecuali bagi mereka yang memiliki syahwat politik pada kekuasaan, ambisi mereka tidak mudah padam. Bahkan mereka tak segan-segan menggunakan segala cara untuk memperjuangkan kepentingan mereka.<br \/>\nDemikian pula jika kita memperhatikan data demokrasi terakhir ini, indeks demokrasi kita terus melorot nilainya dari skor 6,48 menjadi 6,3 yang menempatkan Indonesia pada peringkat 64 dari 176 negara dan peringkat ke-4 di Asia Tenggara berdasarkan Indeks Demokrasi 2020 dari The Economist Intellegence Unit. Artinya, grafik demokrasi kita tidak lagi menukik ke atas tetapi condong miring ke bawah yang menjadi indikasi merosotnya demokrasi Indonesia sehingga mengalami stagnasi akut dan menjadi kekhawatiran banyak orang.<br \/>\nDitambah lagi, praktek demokrasi politik kita menjadi sangat absurd. Kekuasaan pemerintahan sebagai hasil dari proses politik demokrasi lebih cenderung berpihak pada kepentingan elit. Sementara kepentingan rakyat kurang mendapat perhatian maksimal. Arena demokrasi, institusi politik, dan kekuasaan pemerintahan yang semestinya untuk kesejahteraan rakyat, kini telah berubah menjadi sarana bagi kepentingan oligarki politik-ekonomi.<br \/>\nPadahal dalam sistem demokrasi, suara rakyat sangat berarti dimana kelas menengah juga memiliki peran yang strategis. Tetapi karena panggung demokrasi justru memberi keleluasaan bagi elit oligarki semata, maka demokrasi kita kemudian mengidap semacam penyakit kanker yang dapat menjalar kemana-mana. Dan pada akhirnya kanker itu akan menghambat pertumbuhan demokrasi dan mengerogoti sumber daya negara yang membuat kekuatan rakyat dan kedaulatan negara menjadi rapuh.<br \/>\nDemokrasi yang sejatinya \u201cdari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat\u201d, jelas memposisikan rakyat sebagai penopang utama eksisnya legitimasi kekuasaan pemerintahan suatu negara. Namun jika para elit dapat dengan mudah membeli suara rakyat maka fakta demokrasi akan berrubah menjadi \u201cdari rakyat, oleh rakyat, untuk elit\u201d. Yaitu dari demokrasi rakyat menjadi demokrasi oligarki.<br \/>\nJadinya, \u201csuara rakyat\u201d yang dengan mudah terbeli itu pun membuat para pemimpin dan wakil rakyat yang terpilih dalam proses politik itu tidak lagi didasarkan pada kapasitas dan kualitas mereka. Tetapi kuasa uang dan pencitraan semu telah menggantikannya. Maka wajar jika kemudian para elit oligarki mampu mengkooptasi dan mengendalikan institusi-institusi politik lalu dengan mudah mendikte jalannya kekuasaan pemerintahan.<br \/>\nPola transaksional dan kontak langsung yang terjadi antar elit oligarki dengan rakyat menyebabkan pula peran kelas menengah menjadi tidak signifikan. Apalagi jika elit oligarki dengan sengaja memporak-porandakan kekuatan kelas menengah sehingga peran strategis mereka menjadi sirna. Yang lebih tragis lagi jika kelas menengah ikut berlagak bunglon dan main mata dengan para oligarki sebagai agen pragmatis. Tentu saja dalam keadaan demikian maka oligarki makin kuat dan leluasa mempengaruhi kebijakan pemerintah dan menguasai sumber-sumber ekonomi sehingga suasana kehidupan bernegara menjadi timpang dan tidak lagi sesuai dengan harapan reformasi.<br \/>\nMeskipun saat ini kelas menengah masih lemah dan terpinggirkanpun karena adanya pembungkaman, represi, dan penyingkiran bagi mereka yang kritis. Namun optimisme demokrasi mesti bisa terus dikembangkan. Kita berharap kelas menengah kembali akan tumbuh subur dan dapat berperan secara maksimal sehingga dapat memediasi gap pemisah antara kelas bawah dan elit pemerintahan.<br \/>\nKarena tergadainya suara rakyat, berserakannya kekuatan kelas menengah, dan menguatnya oligarki berkaitan satu sama lain. Dimana hal itu akan sangat berpengaruh terhadap merosotnya kualitas demokrasi Indonesia saat ini. Dan sebelum demokrasi ini terlalu jauh melenceng dari cita-cita reformasi maka sinergitas kelas menengah masih sangat diperlukan. Kelas menengah harus tampil kembali digarda terdepan seperti saat gerakan reformasi berlangsung yang kemudian dicatat dengan tinta emas dalam sejarah karena berhasil mendobrak kebuntuan politik masa Orde Baru.<br \/>\nDan yakinlah, kekuatan kelas menengah yang terkonsolidasikan dengan baik akan efektif mengontrol dan mengawal; dinamika demokrasi, peran institusi politik, fungsi dan efektifitas pemerintahan, orientasi dan tujuan pembangunan yang berkeadilan sosial untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia seperti yang kita cita-citakan bersama.(*)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hidayah Muhallim, Ketua Panitia Muswil-X KAHMI Sulsel Belakangan ini, banyak orang mulai resah dengan perkembangan demokrasi kita. Soalnya selama ini masyarakat terus-menerus dijejali dengan janji-janji demokrasi, tetapi fakta lapangan memperlihatkan hal berbeda. Sementara penglihatan banyak orang lebih tertuju pada realitas nyata, bagaimana demokrasi itu dipraktekkan dan apa dampak langsung yang ditimbulkan terhadap kehidupan mereka sehari-hari.<\/p>\n<div class=\"read-more-wrapper\"><a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/waktusenggang.com\/?p=44\" title=\"Read More\"> <span class=\"button \">Read More<\/span><\/a><\/div>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":37,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[13,18,16,17,19],"class_list":["post-44","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aktifitas","tag-demokrasi","tag-indeksdemokrasi","tag-merosotnyademokrasi","tag-oligarki","tag-orde-baru"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/waktusenggang.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Hidayah-Muhallim-5.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/waktusenggang.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/waktusenggang.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/waktusenggang.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/waktusenggang.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/waktusenggang.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=44"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/waktusenggang.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":45,"href":"https:\/\/waktusenggang.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44\/revisions\/45"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/waktusenggang.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/37"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/waktusenggang.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=44"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/waktusenggang.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=44"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/waktusenggang.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=44"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}